Tender Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan)

Kec. Sindang - Indramayu (Kab.)

Kec. Sindang - Indramayu (Kab.)
LPSE Kabupaten Indramayu
Tender Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan) Kec. Sindang - Indramayu (Kab.) LPSE Kabupaten Indramayu

LPSE Kabupaten Indramayu

Tender Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan)

Nilai Pagu Paket Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan)

Image Description

Syarat Tender Belum terpenuhi? Tenang, Kami bantu sampai bisa ikut tender, Mulai dari NIB, SKK Konstruksi, ISO, CSMS, SBU Konstruksi, SBU Non Konstruksi, Laporan Akuntan Publik, SBUJPTL, SIUJPTL, Sertifikat Kompetensi Ketenagalistrikan (SKTTK) ESDM dll

Hubungi tim kami segera, supaya tidak gagal tender karena ketinggalan jadwal lelang/tender.

Detail Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan)

Unit

LPSE Kabupaten Indramayu

Pagu

Rp. 849.816.000,00 (850,0 Jt)

Metode

Tender - Pascakualifikasi Satu File - Harga Terendah Sistem Gugur

Tanggal

24-Juli-2023 s/d 31-Juli-2023

Satuan Kerja

K/L/PD

Rencana Umum Pengadaan

Tender Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan) Kec. Sindang - Indramayu (Kab.) LPSE Kabupaten Indramayu

Lokasi Pekerjaan

Peta Kec. Sindang - Indramayu (Kab.)

Tentang LPSE Kabupaten Indramayu

Kabupaten Indramayu (Hanacaraka: ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ; Hanzi: 德馬尤, aksara Sunda: ᮄᮔ᮪ᮓᮢᮙᮚᮥ) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kecamatan Indramayu. Nama Indramayu berasal dari nama lama yaitu Dermayu.

Kesultanan Dermayu dikenal juga dengan sebutan Dermayu adalah nama lama dari Indramayu. Kesultanan Dermayu didirikan oleh Raden Abdul Ali Wirakusuma atau mantan Laksamana Wira Hwang Liong Samudra (wiralodra) pada tahun 1478.

Raden Abdul Ali Wirakusuma lahir di desa Banyu Urip Surabaya sekitar tahun 1422 atau abad ke-15 dari pernikahan Raden Jaka Pa Kung dengan Dwi Warda. Pada usia remaja Raden Abdul Ali Wirakusuma dikenal juga dengan nama Raden Jaka Abdullah.

Raden Abdul Ali Wirakusuma bersama keluarganya pindah ke desa Banyu Biru Lowayu Giri (Gresik), dikarenakan ayahnya yaitu Raden Jaka Pa Kung (Sunan Gunung) mendirikan Padepokan ajaran agama Islam di Giri (gunung Gresik).

Sejak usia remaja, Raden Abdul Ali Wirakusuma sudah mahir dalam ilmu ajaran agama Islam yang dididik oleh ayahnya yaitu Raden Jaka Pa Kung di Giri atau Gunung di Gresik, Jawa Timur.

Pada usia cukup dewasa, Raden Abdul Ali Wirakusuma atau Jaka Abdullah diperintah oleh ayahnya untuk pergi ke barat di desa Bondan Gumi Hwang untuk berguru kepada Sek Ko Po atau Syeikh Dzatul Khafi di dekat Kali Bengawan Gumi Hwang (sukagumiwang Indramayu).

Termasuk juga diperintah oleh ayahnya untuk pergi ke Padepokan Lemah Abang di Tanjung Pura (Karawang) untuk berguru kepada Sek Tan Go Hwat atau Syeikh Tang Go Hwat dan Sek Kuro atau Syeikh Quro.

Setelah lama di Lemah Abang Tanjung Pura Karawang, Syeikh Tang Go Hwat menikahkan putrinya yang bernama Xiu Eng Tan atau dikenal dengan nama Nyi Endang dengan Raden Abdul Ali Wirakusuma atau Jaka Abdullah.

Raden Abdul Ali Wirakusuma bersama Xiu Eng Tan pindah ke Kerajaan Palembang, Sumatera Selatan. Tujuannya adalah untuk menggantikan kakeknya yaitu seorang Laksamana Perwira Perang Angkatan Laut Kerajaan Palembang yaitu Shi Jinqing.

Hal ini dikarenakan Ibu Raden Abdul Ali Wirakusuma atau Jaka Abdullah yang bernama Dwi Warda adalah putri dari Laksamana Xiao'erJing atau Shi Jinqing seorang Tionghoa Muslim mantan Laksamana Angkatan Laut utusan Zheng Ho di Asia Tenggara.

Raja Palembang ke-7 Zheng Quan Long (Lebar Daun) mengangkat Raden Abdul Ali Wirakusuma atau Jaka Abdullah menjadi Laksamana Wira Hwang Liong Samudra atau disingkat Wiralodra.

Gelar Tiongkoknya memiliki arti, yang mana kata Wira merujuk pada jabatanya sebagai seorang Laksamana atau Perwira Perang Angkatan Laut Kerajaan Palembang sebelum mendirikan Kesultanan Dermayu.

Kata Hwang dapat diartikan sebagai Berlian dan kata Liong adalah Naga, sedangkan kata Lodra adalah gabungan dari kata Liong Samudra. Dalam maksud yang sebenarnya Wira Hwang Liong Samudra adalah Perwira Naga Berlian Samudra atau Perwira Naga Samudra.

Raden Wira Hwang Liong Samudra (Wiralodra) menjadi Laksamana Perang Angkatan Laut Kerajaan Palembang yang dituankan oleh beberapa armada di Asia dan ini menjadi modal awal bagi Wiralodra untuk menjelajahi Asia dan Kepulauan Nusantara.

Selama menjadi Laksamana Perang Angkatan Laut yang mengabdikan diri ke Kerajan Palembang, yang bekerja sebagai pelindung karavan kapal dagang milik penduduk Kerajaan Palembang, perdagangan laut dan perdagangan darat Kerajaan Palembang dapat bangkit dari stagnasi panjang semenjak kedudukan Kerajaan Majapahit di Palembang atau sejak Pangeran Aria Damar berkuasa sekitar tahun 1339-1343 dan Palembang berdiri kembali menjadi Kerajaan setelah kerja sama dagang dan kepemerintahan dengan Tiongkok.

Raja Palembang Zheng Quan Long adalah seorang Tionghoa Muslim yang juga pernah menjadi bagian dari armada Laksamana Zheng Ho di Asia. Kebangkitan perdagangan laut dan darat Kerajaan Palembang membuat Raja Zheng Quan Long menikahkan putrinya yang bernama Xin Qian Liu dengan Laksamana Wira Hwang Liong Samudra atau Wiralodra.

Setelah pernikahaan putrinya, Raja Zheng Quan Long memberikan warisan wilayah Kerajaan Palembang di pesisir utara Jawa kepada Raden Wiralodra atau Jaka Abdullah. Xin Qian Liu dikenal juga dengan nama Nyi Mas Ratu Sindang Ayu dan Xiu Eng Tan dikenal juga dengan nama Nyi Mas Ratu Endang.

Dari pernikahaan Raden Wiralodra dengan Xiu Eng Tan menurunkan putra bernama Raden Abdul Qin San dan dari pernikahan Raden Wiralodra dengan Xiu Eng Tan menurunkan putra bernama Raden Pa Kung Tan Qin Abdullah.

Kedua putranya dilahirkan di Kerajaan Palembang. Pada tahun 1478 Negeri Kesultanan Dermayu didirikan dan keluarganya pindah ke Jawa atau di Indramayu. Setelah pendirian Kesultanan Dermayu terdapat 23 Pangeran Senopati yang perintah oleh Raja Palembang Zheng Quan Long untuk menjadi Perwira Perang Angkatan Laut Kesultanan Dermayu tahun 1475. Wilayah Kesultanan Dermayu meliputi Indramayu, Subang, Karawang dan Bekasi.

Dari 23 Pangeran Senopati Palembang salah satunya terdapat dari Jambi, Pagaruyung, Banyuasin, Enim, Lahat, Singkawang, Gowa, Fujian Tiongkok dan juga 23 Pangeran Senopati Palembang ini dikebumikan di Bong Xin Qian Liu atau di Pemakaman Sindang Indramayu dengan nama Makam Selawe.

Makam Selawe dinamainya karena terdapat 25 Makam, hal ini dikarenakan 2 Istri Sulthonul Abdul Ali Wirakusuma atau Wiralodra juga ikut dikebumikan pada Pemakaman Sindang sehingga jumlahnya menjadi 25 Makam.

Dermayu secara sah berbentuk Kerajaan Islam Dermayu pada 27 Oktober 1527 atas dasar penelitian yang dilakukan oleh Sejarawan Indramayu Mayor Dasuki tahun 1977, karena runtuhnya Kerajaan Majapahit terjadi di tahun 1527.

Nama Dermayu berasal dari dua kata, kata Derma adalah kependekan dari kata Dermaga yang artinya Pelabuhan, sedangkan kata Ayu berasal dari kependekan kata Rahayu yang artinya Tentram atau Damai. Dalam maksud ini adalah Pelabuhan tentram atau damai.

Namun hal itu bukan hanya tentang Pelabuhan, melainkan juga tentang masuknya ajaran agama Islam ke daerah ini (Indramayu) tidak terdapat penolakan keras (perang) dari penduduk Indramayu, sehingga daerah ini dijuluki daerah Ayu atau Kerahayuan yang artinya ketentraman atau kedamaian.

Raden Zhainal Abdul Qin San yang sebelumnya menjadi Wiradipati Kerajaan Palembang, kini diangkat menjadi Sultan Dermayu II menggantikan ayahnya yaitu Sultan Abdul Ali Wirakusuma atau Wira Hwang Liong Samudra (Wiralodra).

Sultan Zhainal Abdul Qin San mulai bertahta di Kesultanan Dermayu dari tahun 1478 hingga 1511. Zhainal Abdul Qin San menikah dengan Ratu Windasari (widasari) dan menurunkan dua anak bernama Raden Zhainal Abiddin Wirakusuma dan Raden Permana Kusuma (Jaka Arum) atau dikenal sebagai Jebug Tang Rum (Kie Geden Pekandangan).

Kedua putranya dilahirkan di desa Dermayu atau kawasan Tionghoa Dermayu yang berada di bagian belakang Kraton Dermayu, pada zaman Zhainal Qin San ini juga Kuda-Kuda perang dipesan dari negeri Tiongkok yang bertujuan untuk pertahanan Kesultanan Dermayu. Pekandangan dinamainya berdasarkan istilah Bahasa Jawa dialek Dermayu untuk kawasan Kuda perang Dermayu atau sebagai tempat kandang Kuda.

Raden Zhainal Abiddin Wirakusuma menjadi Sultan Dermayu ke-III menggantikan ayahnya dan Zhainal mulai bertahta dari tahun 1511 hingga 1545 dan Raden Jaka Permana Kusuma atau Jebug Tang Rum menjadi Panglima Perang Kesultanan Dermayu.

Pada zaman kepemerintahaanya ini banyak sekali pertempuran yang melibatkan Dermayu di dalamnya, seperti: Pertempuran Portugis di pesisir Palembang, Banten, Minangkabau (Pagaruyung), Jambi, Banten, Betawi, Sambas (Singkawang) dan pertempuran dekat Batam.

Pertempuran Jaran Permana adalah pertempuran Dermayu dengan pedagang kekerasan yang terjadi pada tahun 1522 di Kali Bengawan Tanjung Pura (Karawang). Berawal dari pedagang kekerasan yang menduduki daerah Betawi dan menguasai laut jawa adalah sebabnya.

Pada tahun 1498, Vasco da Gama dari Portugis menemukan jalur laut menuju India. Barang-barang dalam jumlah yang jauh lebih besar dapat diangkut melalui laut dengan biaya yang jauh lebih murah. Selain itu, orang-orang Eropa tidak lagi membeli rempah-rempah melalui perantara pedagang Muslim. Dua negara pelaut Portugal dan Spanyol dalam Perjanjian Tordesillas pada tahun 1494, Hindia Timur dan seluruh barangnya jatuh ke Lisbon.

Berawal dari Duarte Fernandes yang berlayar bersama maskapainya dari Potugis untuk menuju ke India dengan jalur mengelilingi Benua Afrika. Duarte Fernandes berhasil menemukan Asia Tenggara dan untuk pertama kalinya mendarat di pelabuhan Sunda (sukabumi) tahun 1511.

Pelayarannya ini adalah pertama kalinya bagi Duarte Fernandes yang sama sekali baru mengenal Asia Tenggara terutama Kepulauan Nusantara (Indonesia). Kemudian Duarte membeli beberapa rempah dari penduduk Sunda, Sumatera, Melaka, Jawa dan Singapura untuk dibawa dan di jual kembali ke Eropa.

Karavan Kapal Portugis yang penuh muatan rempah di jual kembali ke Eropa dengan harga yang sangat tinggi dari harga belinya, namun bagi Duarte perjalanan panjang dan memakan waktu yang lama untuk mendapatkan rempah yang berharga adalah kewajaran.

Sebelumnya penduduk Eropa hanya membeli rempah-rempah dari Asia melalui pedagang Muslim orang Perisa dan Arab. Dengan demikian Duarte Fernandes melakukan pelayaran barunya untuk mendapatkan rempah dari sumbernya langsung di Asia Tenggara termasuk penyebaran Katolik.  

Tingginya harga rempah Asia Tenggara yang di jual orang Portugis tidak menurunkan minat penduduk Eropa akan rempah, melainkan mereka tetep membelinya. Pada kesuksesan awal ini, Duarte Fernandes menambahkan maskapainya dan salah satunya adalah Hernique Leme.

Duarte Fernandes dan Hernique Leme memulai melakukan pelayarannya dari Eropa ke Asia Tenggara dengan jalur yang telah dibuat sebelumnya oleh Duarte. Beberapa tahun karavan kapal mereka penuh dengan muatan rempah dari Nusantara dan selalu sukses di kirim ke Eropa hingga Portugis mampu menguasai Laut Sumatera dan menjadi penguasa lautan di Sumatera, Melaka dan Banten.

Duarte Fernandes melakukan menguasaan laut dan mengubah nama Laut Sumatera menjadi Laut Kawasan Sunda, kemudian Hernique Leme berhasil menguasai wilayah Kerajaan Palembang di pulau Jawa yaitu Betawi dan Duarte Fernandes maupun Hernique Leme mengubah tanah Betawi menjadi Sunda Kelapa tahun 1522. Beberapa kapal nelayan dari Sumatera, Kalimantan dan Jawa melewati laut Sumatera yang dikuasai Portugis, mereka harus membayar kepada pedagang Portugis di Banten.

Pengubahan nama Betawi menjadi Sunda Kelapa, penguasaan laut sumatera menjadi Laut Kawasan Sunda, nelayan-nelayan Sumatera dan Kalimantan yang melawati laut tersebut dimintai untuk membayar kepada Portugis di Banten dan Melaka, pembajakan kapal dagang atau nelayan milik penduduk Kerajaan-kerajaan di Nusantara menjadi sebabanya dan hal itu juga yang menimbulkan kemarahan Raja-Raja di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Raden Permana Kusuma atau Jebug Tangrum dikirim Sultan Zhainal Abiddin Wirakusuma ke Muara Gombong di Bekasi (Betawi) sebagai mata-mata untuk mengambil atau menulis kabar kejadian. Berawal dari pertempuran Kerajaan Palembang dengan pedagang Portugis di laut dekat Banten, kapal-kapal Portugis yang berlambung tinggi dan pasukan Kerajaan Palembang yang menggunakan kapal berlambung kecil membuat Portugis dapat mengalahkannya di lautan.

Raden Permana Kusuma kemudian pergi ke Dermayu dan ke Majapahit untuk membuat rencana sebuah pertempuran dengan Portugis di Melaka, Singapura, Betawi, Banten, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Rencana awal untuk penaklukan, Dermayu akan bertempur di pesisir barat Jawa, pesisir Palembang dan pada pesisir Kalimantan Barat. Sedangkan Majapahit di pesisir Batam, Melaka, Singapura, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan Sukadana akan bertempur di pesisir Kalimantan Tengah dan Timur, Kesultanan Gowa ikut serta bergabung dalam rencana penaklukan pesisir dan Kesultanan Gowa akan bertempur di daerah pesisir Sulawesi Selatan dan Barat,

Pasukan Dermayu yang dikomandani oleh Raden Jaka Permana Kusuma menumbangkan pedagang kekerasan Portugis di Tanjung Pura, Betawi dan pesisir utara Banten. Penaklukan Portugis di Betawi oleh Raden Jaka Permana Kusuma atau Jebug Tang Rum menandai berakhirnya pertempuran di pesisir.

Jakakerta dinamainya berdasarkan Istilah perjuangan untuk Betawi, penduduk Betawi menamainya berdasarkan perjuangan Jaka Tang Rum atau Jebung Angrum dan pengertian kerta bukan hanya tentang hutan, namun tentang pasukan berkuda. Peristiwa ini kemudian disebut Perang Jaran Kusuma (Jaka Tang Rum atau Jebug Angrum).

Setelah pertempuran yang melelahkan, pertempuran pasukan Dermayu di sungai Tanjung Pura dinamainya sebagai Kali Jaka Tang Rum dan dimasa yang akan datang dikenal dengan nama sungai Tarum yang saat ini bernama Citarum.

23 Pangeran Senopati Palembang yang menjadi Angkatan Laut Dermayu gugur pada pertempuran laut berlangsung dan mereka dikebumikan di sebuah Pemakaman Sindang. Selain itu sisa pasukan Dermayu dipesisir utara Jawa mendirikan desa Dermayon di Banten yang menjadi modal awal Kraton Banten atau Kesultanan Banten berdiri dimasa yang akan datang. Orang-orang Dermayu yang mendirikan desa Dermayon di Banten ini berasal dari penduduk muslim Jawa Dermayu dan Tionghoa Dermayu.

Mereka mendirikan desa Dermayon sebagai bentuk penyebar ajaran agama Islam di Banten juga sebagai pedagang Muslim. Beberapa penduduk dari keluarga muslim Dermayu dipindah ke Kerajaan Palembang untuk penyerbaran agama Islam oleh Sultan Zhainal Abiddin Wirakusuma. Keluarga-keluarga Dermayu dari Jawa Dermayu dan Tionghoa Dermayu mendirikan desa Dermayu di Kerajaan Palembang dan juga menyebar ke Jambi, Bengkulu dan Muara Enim atau Lahat.

Selain penduduk muslim Dermayu dipindah ke Banten dan Sumatera Selatan atau Palembang, Sultan Zhainal Abiddin Wirakusuma juga mengirim penduduk muslim Dermayu ke Kalimantan Barat terutama pesisir Sambas (Singkawang). Sultan Zhainal Abiddin Wirakusuma menikah dengan Ratu Mas Ilir yang bernama asli Xiao ban Teng asal Banyuasin Palembang dan menurunkan dua putra bernama Raden Ali Hadinata (Wirahadinata) dan Raden Abidin Kosumawijaya atau dikenal dengan nama Raden Mas Kowi.

Sultan Zhainal Abidin Wirakusuma digantikan oleh Raden Abiddin Kosumawijaya sebagai Sultan Dermayu ke-IV yang bertahta dari tahun 1545-1577. Selain itu pada tahun 1550, Sultan Kosumawijaya mengirim Pangeran Sutajaya ke Kerajaan Majapahit (Demak) sebagai Panembahan. Pangeran Sutajaya adalah putra Pangeran Jaka Tang Rum atau Raden Jaka Permana Kusuma (Kie Geden Pekandangan). Pada zaman Sultan Kosumawijaya terdapat Panembahan Pangeran Jaka Sari (Jaka Dolog) dari Kerajaan Pajang dan Panembahan Pangeran Daeng Morontolo dari Kesultanan Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan.

Pangeran Daeng Morontolo bekerja sebagai mentri atau syah bandar pelabuhan Dermayu di Manukan, kamudian Pangeran Jaka Sari (Jaka Dolog) juga bekerja sebagai mentri syah bandar pelabuhan Dermayu di Pasekan. Selain menjabat sebagai mentri Kepabeanan Dermayu, Daeng Morontolo juga seseorang yang diangkat menjadi pemimpin tertinggi tentara Dermayu dengan gelar Prawira Panji Dermayu. Karena Daeng Morontolo adalah Pangeran Panembahan, dia juga diberi kebebasan untuk memilih kependudukan atau tempat tinggal akhir.

Selama hidup di Dermayu, Pangeran Daeng Morontolo adalah orang yang dituankan oleh tentara Dermayu. Daeng Morontolo memilih hidup di Dermayu dan diperbolehkan memindahkan penduduk Bugis dari Kesultanan Gowa ke Dermayu setelah mengabdi dan menjadi bagian Keluarga Sultan Dermayu.

Desa Bugis Luwung Malang yang saat ini bernama Kecamatan Haurgeulis di Indramayu adalah desa yang dulunya dihuni oleh penduduk Bugis dari Sulawesi Selatan. Hal ini juga terdapat kebudayaan Bugis di Indramayu terutama Kue Bugis Indramayu. Pada tahun 1577 Sultan Kosumawijaya digantikan oleh Raden Ali Hadinata menjadi Sultan Dermayu V yang bertahta dari tahun 1577 sampai 1617. Sultan Ali Hadinata menikah dengan Nyi Mas Ratu Eng Tan Hwat (Intan) seorang tionghoa muslim yang berasal dari desa Tugu (Lelea).

Dari pernikahan itu mereka menurunkan dua putra kembar bernama Raden Hwat Gali dan Raden Hwat Gala. Hwat Gali dikenal juga dengan nama Benggali, termasuk juga Raden Hwat Gala yang dikenal sebagai Benggala. Namun nama Benggala dan Benggali ini hanya sebagai nama sebutan gelar dari nama gelar Kertabenggali dan Kertabenggala.

Pada zaman Sultan Ali Wirahadinata atau Hadinata terdapat Panembahan Pangeran Hangasara (Indrasena) dari Kasuhunan Giri. Pangeran Hangsara atau Indrasena bekerja sebagai mentri syah bandar pelabuhan Dermayu di Pasekan, selain itu Pangeran Hangasara juga pemimpin tertinggi tentara Dermayu pengganti Daeng Morontolo yang sudah masuk usia lanjut.

Raden Hwat Gali menjadi Sultan Dermayu VI dengan gelar Sultan Anom Singaprahwangsa menggantikan ayahnya. Sultan Singaprahwangsa mulai bertahta tahun 1617 dan Pada zamannya ini Kesultanan Dermayu bersekutu dengan Kesultanan Mataram. Saudara kembar Sultan Singaprawangsa yaitu Raden Hwat Gala menjadi Pangeran Panembahan di Kesultanan Mataram, sedangkan Sultan Hanyakrakusuma mengirim Pangeran dan Ratunya ke Dermayu, seperti: Pangeran Rangga Gempol I dari Kadipaten Sumedang, Panembahan Ratu Juminten dari Kadipaten Ponorogo dan Panembahan Pangeran Wirasaba dari Jepara.

Pangeran Panembahan Hwat Gala atau Singalodra diangkat menjadi Tumenggung Bagelen oleh Sultan Hanyakrakusuma. Sedangkan Pangeran Panembahan Rangga Gempol I diangkat menjadi mentri syah bandar pelabuhan Dermayu di Bekasi, kemudian Panembahan Ratu Juminten diangkat menjadi keluarga Sultan Dermayu dan Pangeran Wirasaba bekerja sebagai mentri syah bandar pelabuhan Dermayu di Manukan.

Sultan Singaprawangsa dengan cepat menikahi Ratu Siti Fatimah putri Raja Palembang dan Ratu Panembahan Juminten dinikahi oleh Raden Hwat Gala (Singalodra) yaitu saudara kembar Sultan Singaprawangsa. Ratu Juminten adalah seorang putri dari Ulama yang menjabat sebagai Bupati Ponorogo dan juga masih keturunan dari Sunan Kalijaga.

Pada zaman Sultan Singaprawangsa terjadi keributan pesisir, penaklukan pedagang kekerasan Portugis di Kepulauan Nusantara menjadikan keuntungan bagi VOC dan Inggris, yang mana persaingan mereka dengan Portugis di Asia Tenggara berkurang, namun VOC dengan Inggris masih dalam persaingan ketat.

Pada awal sejarah VOC terdapat keinginan orang-orang Eropa terhadap rempah-rempah dari India dan Asia Tenggara. Selama berabad-abad, karavan kapal telah mengangkut rempah-rempah yang berharga dari India dan Asia Tenggara dengan Jalur Sutra ke pantai timur Mediterania sebuah tempat rempah-rempah tersebut sebagian besar dibeli dan dijual kembali oleh orang Venesia.

Ketika Spanyol menduduki sebagian besar Amerika, para pedagang Portugis mendirikan pos perdagangan mereka terutama di India, Tiongkok, Thailand dan Filipina. Namun pada akhir abad ke-16, muncul persaingan baru untuk armada Iberia, seperti: Belanda dan Inggris mulai melakukan perdagangan dengan Asia.

Umat ​​Protestan tidak merasa terikat dengan perjanjian kepausan. Mereka mengirim pengintai ke Portugis untuk memperoleh pengetahuan rahasia tentang pelabuhan dan jalur sutra menuju ke Asia. Para pelukis terbaik Belanda dan menjadi salah satu pelukis yang terbaik di Eropa, menyalin peta Portugis dan melengkapinya dengan tambah keterangan dari para pelaut yang pernah mengabdi pada orang Iberia.

Pada awalnya Belanda berkelana ke ujung selatan Afrika dan seperti itu cara armada Belanda dapat mencapai Jawa untuk pertama kalinya pada tahun 1596. Komandan dan awak kapal Belanda pulang dan berhasil membawa rempah dari Jawa dan dijual kembali ke Eropa. Setelah keberhasilan awal ini banyak pedagang Belanda bersatu membentuk perusahaan dagang dengan mengumpulkan modal mereka dan mengirim armadanya ke timur untuk membeli rempah langsung di Asia.

Berkat minat yang tinggi di pasar Eropa akan rempah, selama bertahun-tahun karavan kapal Belanda penuh dengan muatan rempah yang berharga dan dinilai memiliki keuntungan besar, yang mana pedagang Belanda dapat mengendalikan harga jual didalam negeri dan harga beli di Jawa, oleh karenanya para pedagang-pedagang Belanda mendirikan perusahaan saham gabungan pertama di dunia bernama Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) tahun 1602.

Pada awalnya, pelabuhan Banten di Jawa berfungsi sebagai tempat berkumpulnya armada VOC dalam perjalanannya ke Eropa dan sebagai pusat perdagangan intra-Asia. Kota ini berlokasi strategis di peralihan dari Samudera Hindia ke kepulauan Indonesia yang kaya akan rempah-rempah. Pedagang VOC, serta Portugis dan Inggris, mendirikan pos dagangnya di Banten dan membayar pajak kepada Sultan Banten yang berkuasa.

Namun pos perdagangan yang sederhana di Banten ini tidak lagi cukup bagi VOC. Pada tahun 1618 Jan Pieterszoon Coen mengambil alih kepemimpinan VOC di Hindia Timur. Putra seorang pedagang garam dari Hoorn di Belanda Utara ini adalah salah satu pelaut paling berdarah dingin. Bahkan sebagai seorang pemuda, dia melakukan perjalanan ke Asia untuk melayani perusahaan dan menulis sebuah memorandum di mana dia merancang sebuah kerajaan perdagangan monopoli di Asia dengan pelabuhannya sendiri sebagai pusatnya.

Awalnya Jan Pieterszoon Coen adalah asisten saudagar di armada VOC, Coen dengan cepat menapaki jabatannya. Pada usia 31 tahun, dia ditunjuk ke posisi teratas di perusahaan di Asia. Gubernur Jenderal yang baru ini dengan kejam berupaya mewujudkan tujuannya.

Tujuan pertamanya adalah pelabuhan Jayakarta, tidak jauh dari Banten, namun berada di luar kekuasaan Banten dan Sunda. VOC mempunyai pertahanan di sini, begitu pula Inggris. Para pelaku kekerasan dari kedua negara saling mengawasi satu sama lain antara Inggris dan Belanda.

Gubernur Coen sengaja memancing keributan dengan Inggris, yang mana Coen mendirikan rumah dagangnya di Jayakarta dan rumah dagang tersebut diperluas menjadi benteng dengan garnisun yang diperkuat dengan tentara. Keributan awal terjadi antara pedagang VOC dengan Inggris di Jayakarta. Inggris mengirim beberapa armadanya untuk membantu rekan mereka di Jayakarta, namun armadanya dikalahkan di Banten dan Jayakarta, hal ini juga menimbulkan kemarahan Inggris di Eropa.

Setelah terusirnya Inggris di Kepulauan Nusantara, untuk melakukan pertempuran awal, VOC membajak armada dagang Dermayu yang mendekat. Gubernur Coen mencari pertarungan terbuka dengan siapapun, namun ketika 37 kapal Dermayu bergegas membantu rekan mereka yang terancam di Jayakarta, gubernur Coen melarikan diri, hanya sedikit orang Belanda yang masih bertahan di benteng Jayakarta dan terlibat dalam pertempuran sengit dengan Dermayu dan penduduk Betawi selama beberapa bulan mendatang.

Armada Sultan Dermayu tiba untuk menghentikan keributan VOC pada lingkungannya di Barangkasi (Bekasi). Pada bulan Mei 1619, Coen kembali dari Belanda dengan bala bantuan. Pasukannya mengalahkan Dermayu di Banten, Cirebon maupun di Jayakarta dan pasukan VOC merebut Jayakarta. Mereka membunuh semua warga yang melawan, menghancurkan pasar, istana, masjid. Permukiman di Jayakarta telah musnah seluruhnya.

Coen Batavia, dinamai berdasarkan istilah Latin untuk Belanda, mendirikan Batavia di atas reruntuhan Jayakarta. Sebuah kota ideal di dekat khatulistiwa tercipta, dengan balai kota, gedung pengadilan dan rumah-rumah bergaya Eropa, dengan kanal, jaringan jalan geometris dan kebun raya, terlindungi dengan baik oleh tembok kota yang kokoh dan benteng bersenjata lengkap.

Di Batavia, VOC membentuk pemerintahan tertingginya dengan Gubernur Jenderal Coen sebagai pemimpinnya. Ibarat sebuah negara, para pejuang saudagar mewakili kepentingan mereka di Asia dan pada saat yang sama kepentingan Belanda, Coen telah mencapai tujuan pertamanya yaitu membangun pangkalan armada dagang Amsterdam di Asia.

Dari Betawi, kapal-kapal VOC berlayar menuju Kalimantan, Laut Cina Selatan, Sumatera serta Maluku. Apa yang langka dan dicari di Eropa tumbuh subur di wilayah ini, seperti Rempah, Sumber biji Logam dan Karet. Namun bagi Gubernur Jenderal VOC, pelabuhan Batavia tidak cukup sebagai pintu gerbang menuju dunia perairan Nusantara ini, dia ingin menguasai seluruh wilayah Nusantara.

Belanda sekarang secara terbuka mengancam perang dengan siapapun dan semakin seringnya perjanjian dengan Kerajaan-Kerajaan Nusantara tidak ada gunanya. VOC dapat menentukan harga untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Jika penguasa setempat membela diri melawan kekuasaan yang lebih tinggi, para pejuang pedagang VOC melawan dengan kekerasan, ketika penduduk pulau Jawa di Banten memberontak dan melakukan penyerangan dan melanggar perjanjian dagang, Coen akhirnya memerintahkan penaklukan Banten, Sunda dan Cirebon pada tahun 1621.

Prajurit VOC menyiksa dan membunuh penduduk Banten yang melawan mereka dikirim ke Sumatera sebagai budak atau pekerja kasar. Sebagian besar penduduk Banten mengungsi ke pedalaman pulau Jawa bagian barat terutama di timur Kadipaten Gebang yaitu tempat mereka kelaparan dan menjadi pekerja kasar di sungai Brebes (jawa tengah).

Coen melakukan tindakan keras terhadap kompetisi dagang dengan Dermayu. Pada tahun 1623, tentara VOC menggerebek kantor dagang Dermayu di Manukan (cimanuk-Pamanukan Subang). Pasukan VOC menyiksa dan membunuh banyak penduduk Manukan Kesultanan Dermayu.

Pembantaian tersebut menimbulkan kemarahan luas di Kesultanan Dermayu, namun pada saat yang sama juga digunakan oleh Sultan Dermayu untuk menciptakan sentimen terhadap pedagang VOC. Perang laut antara VOC dan Dermayu terus berlanjut. Para saudagar Belanda mendirikan perusahaan dagangnya di India, Jepang, Formosa (Taiwan), Banten, Betawi, Cirebon, Tegal dan Maluku.

Hanya orang Jawa di pesisir Dermayu, orang Tionghoa Dermayu dan orang Melayu-Betawi Bekasi yang memberikan perlawanan yang bertahan lama, Belanda menetap di Banten, Betawi, Cirebon, Tegal dan Maluku. Pedagang VOC semakin mendorong Kesultanan Dermayu agar tumbang dan mulai tertarik dengan pesisir Dermayu.

Beberapa Kerajaan di Jawa berlomba-lomba untuk penaklukan, tujuannya adalah menduduki wilayah yang telah diduduki pedagang VOC dan jika memenangkan pertempuran, maka wilayah yang telah diduduki VOC akan dimiliki oleh Kerajaan sebagai harta rampasan perang yang berharga.

Salah satu Sultan di Jawa Sultan Hanyakrakusuma melakukan pertempuran dengan pedagang VOC di Batavia, namun tembok benteng yang kokoh serta persenjataan pasukan Mataram yang tidak lengkap menjadikan pasukannya dikalahkan oleh meriam VOC yang keluar dari jendela benteng Batavia.

Pada tahun 1648, Istana Kesultanan Dermayu dipindah ke sebelah timur sungai Tanjung Pura, pemindahan Kraton Dermayu ini terjadi pada masa kepemerintahan Sultan Singaprahwangsa atau Raden Hwat Gali sebagai Sultan Dermayu ke-VI sebagai bentuk perlawanan yang merasa terdesak atas kedudukan VOC di Cirebon sejak tahun 1621.

Istana Dermayu Kara Hwang (karawang) dinamainya oleh Sultan Badrudin Singaprahwangsa yang diambil dari nama leluhurnya (buyutnya) yaitu Syeikh Quro Hwat, yang mana Syeikh Quro Hwat adalah orang tua dari Syeikh Tang Go Hwat. Syeikh Quro Hwat juga saudara kandung dari Syeikh Dzatul Khafi atau Sek Koh Po (Suhunan Gunung Sari Gumi Hwang) di desa Bondan Sukagumiwang Indramayu. Dengan demikian Quro Hwang dinamainya berdasarkan nama leluhurnya.

Dari pernikahan Sultan Singaprahwangsa dengan Ratu Siti Fatimah menurunkan putra bernama Raden Badruddin Kertawijaya, sedangkan dari pernikahan Raden Hwat Gala (gagak singalodra) dengan Ratu Juminten menurunkan putra Raden Syah Maun (syeikh syamaun) yang lahir di Demak setelah Raden Badruddin Hwat Gala pindah ke Demak atau setelah tidak lagi menjabat sebagai Tumenggung Bagelen.

Raden Badruddin Kertawijaya menjadi Sultan Dermayu ke-VII menggantikan ayahnya. Raden Badruddin Kertawijaya resmi bertahta pada tahun 1653 sampai 1686 di Kraton Dermayu Kara Hwang atau Karawang yang gelar Sultan anom Indrawijaya. Semenjak Sultan anom Singaprahwangsa bertahta, Kesultanan Dermayu didaulatkan Singaprahwangsa yang direstui oleh Sri Sultan Hamengkurat I pada tahun 1637.

Pada zaman Sultan Badruddin Kertawijaya bertahta terdapat Panembahan Pangeran Rangga Gempol II dari Kadipaten Sumedang, Panembahan Pangeran Watuhaji dari Jepara, Panembahan Pangeran Purbaya dari Tegal. Pangeran Rangga Gempol II bekerja sebagai mentri syah bandar pelabuhan Dermayu di Barangkasi (bekasi), Pangeran Purbaya bekerja sebagai syah bandar pelabuhan Dermayu di Manukan dan Pangeran Watuhaji bekerja sebagai mentri syah bandar pelabuhan Dermayu di Pasekan.

Pada tahun 1673, Rangga Gempol II berhenti menjabat sebagai syah bandar Dermayu, setelah keributan Trunojoyo di Mataram, Rangga Gempol mendirikan Kerajaan Sumedang di Tegal Kalong dengan melakukan Panembahan Pangeran Mataram didalam kerajaannya, seperti: Pangeran Wangsanegara, Pangeran Wangsayuda, Pangeran Ngabehi Prawiralodra, Pangeran Tanujaya dan Pangeran Tanujiwa. Kelima Pangeran Panembahannya berasal dari Bagelen.

Pendirian Kerajaan Sumedang di Tegal Kalong tidak berlangsung lama, Kesultanan Banten menyerang Kerajaan Sumedang hingga Rangga Gempol bersama Pangeran Panembahannya seperti: Pangeran Wangsayuda, Pangeran Tanujaya, Pangeran Tanujiwa meninggal dan dikebumikan di Tegal Kalong, namun Pangeran Panembahan Wangsanegara (wirasetya) dan Pangeran Panembahan Ngabehi Prawiralodra (bagus taka) melarikan diri ke Kesultanan Dermayu tahun 1680.

Pangeran Wangsanegara yang bernama asli Raden Wirasetya melarikan diri dan bersembunyi di desa Pegaden (sekarang bagian subang). Sedangkan Pangeran Ngabehi Prawiralodra yang bernama asli Raden Bagus Taka atau Raden Bagus Wirantaka melarikan diri ke desa Pengauban (lelea). Raden Bagus Taka bertemu dengan Ki Sidum (Pranolo), yang mana Ki Sidum adalah nama asli dari Raden Pranolo yang lahir di desa Pengauban dan memiliki putra bernama Raden Handaka.

Pertemuan Ki Sidum dengan Raden Bagus Taka berawal dari kabar tentang pelarian Pangeran di desanya. Ki Sidum membawa Raden Bagus Taka ke Karawang untuk bertemu Sultan Badruddin Kertawijaya (Indrawijaya), pusaka milik Raden Wirasetya atau Wangsanegara dan pusaka milik Raden Bagus Taka atau Raden Ngabehi Prawiralodra dirampas oleh Sultan Kertawijaya, karena keduanya telah banyak melakukan penipuan selama hidup di Dermayu sebagai seorang pelarian.

Tujuan nama gelar Raden Bagus Taka diberi gelar Prawiralodra yang menyerupai nama gelar pendiri Indramayu Aria Wiralodra (Hwang Liong Samudra) adalah untuk penipuan atau pemalsuan garis keturunan, yang mana Sultan Dermayu adalah trah Raja Majapahit, termasuk Sultan Demak I juga keturunan dari Sultan Dermayu dan juga Pangeran Lirbaya (kediri) keturunan dari Sultan Syahkristal (Syeikh Syahkir) putra Raden Syah Maun (Syeikh Syah Maun Dadap).

Raden Bagus Taka dan Raden Wirasetya dipulangkan ke Bagelen Mataram, karena Raden Syahmaun (Syeikh Syah Maun) juga mengetahui latar belakang mereka dari laporan Pangeran Panembahan Watuhaji. Di Bagelen Raden Bagus Taka atau Wirantaka yang sebelumnya memiliki gelar Raden Ngabehi Prawiralodra diangkat menjadi Tumenggung Bagelen dengan gelar Gagak Singalodraka oleh Sultan Hamengkurat II.

Pada tahun 1686 Sultan Badruddin Kertawijaya turun tahta digantikan oleh ponakannya yaitu Raden Syah Maun (Syeikh Maun) menjadi Sultan Dermayu ke-VIII. Disini Sultan Syahmaun mengangkat putra Pekandangan yaitu Parmin (Jaka Sembung) menjadi Prawira Perang Dermayu untuk ikut serta bergabung dengan Pangeran Watuhaji dan Pangeran Purbaya. Sedangkan Sultan Syahmaun menjadikan pamannya sendiri sebagai Panglima Perang Dermayu yaitu Raden Badruddin Kertawijaya diberi gelar baru bernama Gagak Pinasti.

Sepanjang kepemerintahan Sultan Syahmaun bertahta di Kesultanan Dermayu di Kraton Dermayu Kara Hwang, hasil pertanian padi Kesultanan Dermayu dari Indramayu, Subang, Karawang dan Bekasi diarahkan untuk kegiatan makanan tentara Dermayu. Hal ini disiapkan Syahmaun untuk pertempuran pesisir dalam rencana penaklukan Cirebon dan Tegal.

Pada tahun 1686, Sultan Syahmaun berkunjung ke Cirebon untuk bertemu dengan VOC dan Bupati Kuningan, yang mana tujuannya Dermayu ingin membeli atau membayar biaya penggadaian wilayah Cirebon, karena sebelumnya daerah Cirebon digadaikan oleh Mataram kepada VOC. Pada penjanjian awal Dermayu diperbolehkan melunasi penggadaian Mataram dan Dermayu diminta untuk mendirikan Kantor Pemajeg atau Pajak sekaligus Kantor Pegaden atau Kantor Penggadaian, Kantor ini bernama Kanoman di Cirebon. Raden Badruddin Kertawijaya ditunjuk Sultan Syahmaun sebagai Kepala Pemajeg atau Kepala Pegaden di Kantor Kanoman untuk melunasi pembayaran yang disepakati.

Baru 4 tahun berjalan Kantor Kanoman ini digrebek pasukan VOC bersenjata lengkap dan Kertawijaya melarikan diri ke Dermayu, penggrebekan juga terjadi pada daerah Dermayu lainnya seperti Manukan dan Eretan. Sultan Syahmaun memerintah pasukan Dermayu untuk penaklukan Cirebon melalui Raden Kertawijaya, sedangkan Pangeran Watuhaji bersama Parmin (Jaka Sembung) untuk penaklukan Manukan Eretan.

Penaklukan Kuningan oleh Kertawijaya berhasil dilakukan, yang mana Bupati Kuningan adalah Bupati Cirebon yang terusir dari tanah kelahirannya setelah VOC menduduki wilayah mereka dan Bupati Kuningan (Cirebon) menyerahkan Kuningan kepada Kertawijaya. Penaklukan Kuningan menjadi bagian awal untuk pertempuran yang sebenarnya, Raden Kertawijaya maju dalam penaklukan Cirebon dan berhasil mendudukinya. Pangeran Purbaya dan pasukan Dermayu dikirim ke Tegal untuk penaklukan, namun hanya sebagian sampai Slawi. Sementara Watuhaji, Parmin dan pasukan Dermayu dikirim untuk pertempuran pesisir.

Kedudukan Dermayu di Cirebon, Kuningan dan Tegal tidak berlangsung lama, bala bantuan VOC datang dari Batavia dan pasukannya mengalahkan Dermayu. Raden Kertawijaya (Indrawijaya) menyerahkan kembali wilayah Cirebon, Kuningan, Gebang, yang sebelumnya diduduki Dermayu diserahkan kembali kepada Kerajaan VOC. Termasuk Pangeran Purbaya menyerahkan Tegal ke VOC. Namun pertempuran sengit masih terjadi di Desa Kertawinangun Eretan, yang mana Parmin (Jaka Sembung) dapat mendorong pasukan pedagang kekerasan sampai ke Batavia, pangeran Watuhaji meninggal di Batavia dalam pertempuran.

Pertempuran berakhir yang ditandai perjanjian perdagangan sehat di Batavia, Sultan Syah Maun turun tahta dan digantikan oleh Raden Ali Syahkristal atau Sultan Syahkir yang menjabat sebagai Sultan Dermayu IX tahun 1719. Dibawah kepemerintahan Sultan Syahkristal atau Syahkir, Dermayu disibukan dalam berbagai agama atau lebih banyak kegiatan keagamaan dari pada kegiatan pertahanan dan pada tahun 1757 Sultan Syahkristal atau Syahkir digantikan ponakannya yaitu Raden Marang Ali Wirakusuma menjadi Sultan Dermayu ke-X putra Raden Badruddin Kertawijaya dan menjadi Sultan Dermayu terakhir dari dinasti Hwang Liong.

Penaklukan Belanda oleh Inggris yang didahului oleh pertempuran di Eropa membuat wilayah Kolonial Hindia Belanda di Nusantara ikut serta menjadi tujuan penaklukan oleh Inggris. Benteng-benteng yang sebelumnya dibangun oleh VOC di pesisir Jawa, kini benteng-benteng yang terbuat dari batu bata merah itu rata dengan tanah. Pasukan Inggris melakukan pendaratan di pantai Karangsong dekat Pasekan yang dahului oleh pertempuran sengit dengan tentara Hindia Belanda.

Setelah penaklukan pantai Karangsong dengan cepat pasukan Inggris bergerak untuk menyerang kantor-kantor dagang VOC di Kawasan Perkotaan Dermayu (Indramayu). Keributan ini didengar oleh Sultan Marang Ali Wirakusuma di Kraton Dermayu Kara Hwang yang kemudian pasukan Dermayu digiring untuk menghentikan keributan Inggris dan Hindia Belanda diwilayahnya. Sultan Marang Ali terbunuh pada pertempuran ini dan menjadi Sultan Dermayu terakhir dari Dinasi Hwang Liong 1797.

Pada tahun 1803 Kesultanan Dermayu resmi dipecah menjadi dua bagian: Karesidenan Karawang dan Particuliere Sultans Landen Karesidenan Indramayu. Karesidenan Karawang terdiri dari 4 Kawedanan: Manukan (Pamanukan), Asissten Residen Subang, Cikampek, Rengasdengklok, Kadipaten Purwakarta, Residen Karawang.

Particuliere Sultans Landen Karesidenan Indramayu terdiri dari 7 Kawedanan: Jatibarang, Jatiwangi, Karangampel, Sindang, Losarang, Kandangawor, Telaga, Kadipaten Majalengka dan Residen Indramayu. Nama Indramayu dinamainya dari nama Sultan Anom Badruddin Kertawijaya yang bergelar Sultan Indrawijaya, yang mana Kertawijaya adalah Sultan Dermayu yang berhasil membawa Dermayu dalam berbagai penaklukan pesisir dan dinamainya Indramayu dari nama Indrawijaya Dermayu.

Indramayu adalah bentuk Karesidenan yang berdiri pada tahun 1890 oleh Raden Ali Jalari yang bergelar Sultan Purbadinegara I. Ini terjadi pasca Kerajaan Dermayu runtuh ditahun 1812 dan dibangkitkan kembali oleh Raden Ali Jalari atau Sultan Purbadinegara I tahun 1890 dan setelahnya Raden Rolat yang bergelar Sultan Purbadinegara II menjabat.

Secara geografis, Kabupaten Indramayu berada pada 107"51'-108"36' Bujur Timur dan 6"15'–6"40' Lintang Selatan. Wilayahnya terletak di bagian utara provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kabupaten Indramayu berjarak sekitar 52 Km barat laut Kota Cirebon, 144 Km dari Kota Bandung melalui Sumedang serta 205 Km dari Jakarta ke arah timur. Seluruh wilayahnya merupakan dataran rendah hingga pesisir. Ada sebagian daerah yang memiliki perbukitan terutama di perbatasan Kabupaten Sumedang yaitu Dusun Ciwado Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Indramayu. Dan sebagian wilayah Sanca, Kecamatan Gantar

Wilayah kabupaten Indramayu beriklim tropis basah dan kering (Aw) dengan dua pola musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan biasanya berlangsung sejak bulan Desember hingga bulan Maret. Musim kemarau berlangsung pada bulan Mei hingga bulan Oktober. Rata-rata curah hujan di wilayah kabupaten Indramayu adalah 1300–1800 mm per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 90–140 hari hujan per tahun. Oleh karena wilayahnya yang berada di pesisir pantai, suhu rata-rata tahunan wilayah ini cukup tinggi yaitu berkisar antara 23°–32 °C. Tingkat kelembapan di sebagian besar wilayah kabupaten Indramayu berkisar antara 70–85% per tahunnya.

Kabupaten Indramayu terdiri dari 31 kecamatan, 8 kelurahan, dan 309 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 1.845.205 jiwa dengan luas wilayah 2.040,11 km² dan sebaran penduduk 904 jiwa/km².

Pusat perekonomian kabupaten ini berada di wilayah Kecamatan Jatibarang dan Kecamatan Haurgeulis karena kedua kecamatan ini memiliki akses transportasi yang mudah seperti Jalur Pantura dan Stasiun Kereta Api. Beberapa kecamatan penting di wilayah Kabupaten Indramayu diantaranya adalah Kecamatan Patrol, Kecamatan Karangampel, Kecamatan Terisi, Kecamatan Kertasemaya, dan Kecamatan Krangkeng.

Kabupaten Indramayu dilalui jalur utama lintas utara Jawa atau Jalan Nasional Pantai Utara (Pantura). Jalur pantai utara Jawa di Kabupaten Indramayu membentang dari Kecamatan Sukra hingga Kertasemaya. Terdapat juga jalur alternatif sebelah utara dari Kecamatan Lohbener ke arah Indramayu Kota, Karangampel, hingga Krangkeng yang menuju ke arah Cirebon. Sedangkan jalur lain untuk menuju ke arah Ibu Kota Indramayu dapat mengambil jalur dari Lohbener, Widasari danke arah utara Jatibarang.

Jalur utama untuk arah ke Jawa Tengah dapat melalui jalur Lohbener, Widasari, Jatibarang, Kertasemaya, jalur lain untuk menuju ke Karangampel dapat melalui Jatibarang atau Widasari dengan arah Pasar Jatibarang.

Kabupaten Indramayu ini juga dilalui oleh dua jalur kereta api utama, yaitu lintas utara dan tengah Pulau Jawa menghubungkan Jakarta dengan Surabaya. Stasiun Kereta Api terbesar di Indramayu berada pada Stasiun Jatibarang yang merupakan salah satu stasiun yang melayani pemberhentian dari berbagai Kereta. Selain itu terdapat stasiun lainnya yang aktif di Kabupaten Indramayu, seperti: Stasiun Terisi dan Stasiun Haurgeulis. Transportasi udara untuk Kabupaten Indramayu hanya dilayani di Bandar Udara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka yang melayani penerbangan Domestik maupun Internasional.

Kabupaten Indramayu menjadi salah satu wilayah di provinsi Jawa Barat, yang sebagian besar penduduknya adalah Suku Jawa Dermayon, Dua suku lain dengan jumlah signifikan yakni suku Cirebon (umumnya di perbatasan) dan Sunda. Sebagian kecil lainnya adalah orang Betawi, Tionghoa, Batak, Minangkabau, dan suku lainnya. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000, berikut adalah besaran penduduk kabupaten Indramayu berdasarkan suku bangsa:

Secara umum bahasa daerah yang digunakan masyarakat Kabupaten Indramayu, yakni bahasa Jawa Indramayu. Bahasa Jawa Indramayu digunakan oleh mayoritas masyarakat Indramayu. Selain bahasa Jawa Indramayu, di wilayah selatan terutama di Kecamatan Terisi di Desa Cikawung penduduknya menggunakan Bahasa Jawa Indramayu dan dapat mengerti bahasa Sunda secara alami karena berdekatan dengan Kabupaten Sumedang di selatan.

Bahasa Jawa di Kabupaten Indramayu terbagi menjadi dua dialek, seperti: dialek Dermayu dan dialek Tegal. Sebagian besar penduduk Indramayu menggunakan dialek Indramayu, selain itu di Desa Krangkeng, Kalianyar, dan sekitarnya di Kecamatan Krangkeng, yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon memiliki logat seperti orang Cirebon.

Munculnya dialek Tegalan yang bercampur dengan dialek Indramayu karena terdapat sebuah program Transmigrasi tahun 1872 yang bebarengan dengan Program Transmigrasi Penduduk Sunda ke Sumatera Selatan di daerah Lampung.

Beberapa kepala keluarga yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah ditransmigrasi pada tahun 1872 oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja sebagai pekerja Rel Kereta Api di Indramayu, Jawa Barat. Dalam catatan atau cacah tahunan tahun 1872 terdapat 7 Kepala Keluarga dari Tegal bergabung dengan penduduk Desa Bongas di Indramayu barat.

Salah satu ciri yang mencolok pada dialek Tegal di Indramayu menggunakan kata Inyong (aku-saya) untuk menyebut dirinya, sedangkan bahasa Jawa dialek Dermayon atau dialek Indramayu tidak ditemukan kata Inyong melainkan menggunakan kata Reang (saya).

Kata Reang adalah bentuk kata tidak baku dan kata baku dari kata Reang adalah Rekang. Kata Rekang atau Reang adalah kosa kata bahasa Jawa kuno, sedangkan kata ganti dalam bahasa modern adalah Kula atau Kulo. Kata Nang adalah kependekan dari kata Danang dan kata Nok adalah kependekan dari kata Denok, serta kata Kang adalah kependekan dari kata Rekang.

Kosa kata Bahasa Jawa baku masih digunakan oleh penduduk Indramayu saat ini, seperti: Reang (Rekang), Sira, Danang, Denok, dan beberapa kosa kata lainnya. Bahasa Jawa dialek Dermayon atau dialek Indramayu mengalami perubahan terutama pada kata ganti, yang mana Bahasa Jawa dialek Dermayon secara baku hanya terdapat satu kata ganti dari Ngoko (dasar) ke Madya (menengah).

Namun pada abad ke-17 Bahasa Jawa dialek Dermayon terdapat satu kata ganti tambahan dari Ngoko (dasar) ke Madya (menengah) kemudian kata ganti Besiken (Tinggi). Kata ganti Besiken muncul di Indramayu karena pengaruh dari Kesultanan Mataram di Jawa.

Meski kata ganti Besiken muncul pada Bahasa Jawa dialek Dermayon, namun penggunaan kosa kata dasarnya tidak mengalami perubahan, seperti dari "A" ke "O". Vokal A adalah kosa kata Bahasa Jawa baku atau dasar, sedangkan kosa kata yang berubah dari A ke O adalah bentuk dari Bahasa Jawa jenis baru atau Modern.

Penggunaan kata ganti Besiken di Indramayu jarangan digunakan dalam sehari-hari dan hanya digunakan pada saat kegiatan tertentu. Hal ini penduduk Indramayu menggunakan Bahasa Jawa dialek Dermayu tingkat dasar dan madya dalam kosa kata sehari-harinya.

Pada tahun 1872 Pemerintah Hindia Belanda membuat Program Transmigrasi 30 Kepala Keluarga dari daerah Pegunungan yang hidup terisolasi di Kuningan, Jawa Barat dipindah ke Indramayu tahun 1872.

Beberapa Kepala Keluarga dari Kuningan, Jawa Barat ikut serta bergabung dengan Desa Kertawinangun di Kecamatan Eretan dan mendirikan blok Parean. Tujuannya adalah untuk pemekaran Kecamatan, dikarenakan Kecamatan Eretan kekurangan penduduk untuk syarat pemekaran Kecamatan Eretan Wetan. Beberalpa kepala keluarga juga bergabung dengan Desa Bugis Luwung Malang di Indramayu dan desa Bugis Luwung Malang saat ini berganti nama menjadi Haurgeulis karena penyebutan Belanda.

Terdapat dua jenis bahasa Sunda yang digunakan. Pertama, bahasa Sunda Priangan atau bahasa Sunda jenis baru yang digunakan oleh masyarakat di beberapa desa Kecamatan Gantar terutama yang berbatasan dengan Kabupaten Subang dan desa Haurgeulis di Kecamatan Haurgeulis yang berbatasan dengan Kabupaten Subang, Kecamatan Terisi bagian selatan terutama Desa Cikawung yang berbatasan dengan Sumedang, Blok Karangjaya di Desa Mangunjaya di Kecamatan Anjatan yang berbatasan dengan Kabupaten Subang. Munculnya Bahasa Sunda Priangan di Indramayu ini karena Program Transmigrasi dari Bandung, Jawa Barat tahun 2010 yang tercatat dalam cacah tahunan Kabupaten Indramayu.

Selain Bahasa Jawa di Indramayu juga terdapat beberapa desa yang menggunakan Bahasa Sunda Indramayu jenis Sunda kuna di wilayah Indramayu, yakni di Desa Ilir, Bulak, dan Parean Girang di Kecamatan Kandanghaur, serta Desa Lelea dan Tamansari di Kecamatan Lelea yang dikenal sebagai bahasa Sunda Lelea atau bahasa Sunda Parean.

Penggunaan Bahasa Sunda Kuna ini karena Transmigrasi tahun 1872 dari daerah Pedalaman Pegunungan Kuningan, Jawa Barat. Sebagian penduduk Sunda di bagian timur Jawa Barat adalah daerah atau penduduk yang ketinggalan dalam perubahan Bahasa Sunda kuno ke Sunda jenis baru. Bahasa Sunda jenis baru muncul karena terdapat pengaruh dari Kesultanan Mataram di Jawa.

Sedangkan daerah-daerah yang tertutup, seperti di beberapa desa di Banten, Garut dan Kuningan hanya sedikit pengaruh luar yang mempengaruhinya, hingga penduduk pedalaman pegunungan dapat mempertahankan bahasa mereka tanpa perubahan kata ganti atau tingkatan. Dengan demikian pada saat terdapat program Transmigrasi tahun 1872, yang mana penduduk dari Kuningan, Jawa Barat masih mempertahankan dari bahasa mereka. Namun jika mereka datang lebih awal atau hidup di Indramayu zaman Mataram tentunya bahasa sunda mereka akan mengalami perubahan ke jenis baru.

Bahasa Sunda jenis Sunda kuna agak berbeda dengan jenia Sunda baru karena perbedaan dialek temporal. Perbedaan yang paling kentara adalah dalam bahasa Sunda Parean-Lelea tidak mengenal undak-usuk (tingkatan berbahasa). Bahasa Sunda Parean-Lelea juga tidak mengenal vokal /eu/, tetapi digantikan oleh vokal /u/, /i/, atau /ə/ saja. Belum lagi perbedaan pada kosakata.

Seni dan budaya di Indramayu merupakan akulturasi dari budaya Jawa Indramayu, Tionghoa dan Sunda bagian wilayah utara, kebudayaan yang tumbuh dalam masyarakat Indramayu menjadi bentuk ekspresi nyata terhadap akulturasi tiga kebudayaan yang berbeda.

Kesenian Indramayu salah satunya adalah kesenian Organ Tunggal, yakni pentas musik di atas panggung dengan menggunakan Organ. Organ Tunggal ini biasanya dipentaskan hampir di setiap acara, seperti acara tujuh belasan, juga pada hari raya keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, meskipun lebih sering dipentaskan pada acara-acara hajatan, seperti hajatan pernikahan dan khitanan. Selain di atas panggung, kesenian musik organ ini juga dipentaskan secara berkeliling kampung pada saat-saat tertentu, seperti pada Bulan Ramadhan. Dua di antaranya yang cukup ternama beserta artisnya adalah: Organ tunggal Rolani Electone dengan Aas Rolani dan organ tunggal Puspa Kirana dengan Dewi Kirana. Tidak jarang grup-grup ini mendapat job manggung di luar Indramayu, bahkan lintas provinsi.

Seni tradisional lainnya adalah seni tari topeng kelana. kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Yogyakarta termasuk Indramayu. Tari topeng Indramayu adalah salah satu tarian topeng yang memiliki perbedaan dengan tari topeng asal Yogyakarta yang memiliki topeng mata besar, sedangkan tari topeng Indramayu topeng mata sipit.

Berawal dari Raden Sulandono yang diutus oleh Kesultanan Mataram Islam untuk memata-matai VOC di Pelabuhan Kesultanan Dermayu (bawahan Mataram). Raden Sulandono melatih beberapa prajurit dermayu menggunakan tari topeng kelana yogyakarta untuk menjadi telik sendi (mata-mata) atau untuk VOC. Namun Topeng yang digunakan itu berbeda yakni Topeng Mata Besar berasal dari pasukan Mataram, sedangkan Topeng Mata Sipit berasal dari pasukan Dermayu.

Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang. Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng Kelana Kencana Wungu yang merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana Wungu yang dikejar-kejar oleh Prabu Menak Jingga yang tergila-tergila kepadanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Menak Jingga (disebut juga Kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, temperamental dan tidak sabaran. Tari ini karya Nugraha Soeradiredja.

Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng. Kesenian tari topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu sanggar tari topeng yang ada di Indramayu adalah sanggar tari topeng Mimi Rasinah, yang terletak di Desa pekandangan, Indramayu. Mimi Rasinah adalah salah satu maestro tari topeng yang masih aktif menari dan mengajarkan kesenian tari topeng walaupun dia telah menderita lumpuh semenjak tahun 2006, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010.

Seperti masyarakat Jawa pada umumnya, kesenian Wayang masih kental melekat pada masyarakat Indramayu. Wayang Kulit Indramayu sebenarnya tak ada bedanya dengan wayang kulit Jawa, perbedaanya hanya terletak pada bahasa yang digunakannya, yaitu Bahasa Jawa Indramayu atau yang biasa dikenal dengan basa dermayon yang khas dalam tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya.

Wayang kulit indramayu merupakan ragam khas wayang kulit cirebon, di mana sebenarnya wayang kulit cirebon masih serupa dengan wayang kulit purwa, tetapi memiliki ciri khasnya tersendiri jika ditinjau dari sudut seni kriya, wayang kulit cirebon dibuat cukup jauh berbeda dengan tatahan dan sungingan wayang kulit purwa, adapun bentuk wayang kulit cirebon ini agak mirip dengan wayang kulit bali tetapi ukurannya lebih langsing.

Pementasan Wayang Kulit masih sering diselenggarakan pada momen tertentu seperti hajatan, ataupun dipentaskan sebagai bagian dari adat tradisional lainnya, seperti Mapag Sri, Ngarot, Nadran, Ruwatan dan sebagainya. di mana pada acara adat tersebut, pementasan wayang kulit menjadi suatu keharusan, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari acara itu sendiri. Beberapa Dalang Wayang Kulit terkenal Indramayu adalah H. Anom Rusdi bersama Grup Langen Budaya dan H. Tomo bersama Grup Langen Kusuma.

Pesta rakyat Mapag Sri ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan kegiatan yang wajib diadakan setiap tahun. Konon pada tahun 1970-an kegiatan ini pernah tidak dilaksanakan karena hasil panen sedikit, karena tidak dilaksanakannya pesta rakyat Mapag Sri akibatnya banyak masyarakat setempat yang sakit. Semenjak kejadian itu, sekecil apapun hasi panen yang diperoleh, pesta rakyat Mapag Sri harus tetap dilaksanakan.

Kebudayaan masyarakat Suku Jawa yang melekat pada masyarakat Indramayu salah satunya adalah Sintren, Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Suku Jawa, khususnya Pekalongan. Kesenian ini terkenal dan menyebar di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain Pemalang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Banyumas, Kuningan, Cirebon, dan Indramayu. Sintren disebut juga dengan lais. Di Indramayu sendiri, kesenian Sintren dipentaskan pada acara-acara tertentu, misalkan hajatan atau syukuran, atau pentas seni tradisional. Dahulu ada pentas seni Sintren yang berkeliling kampung, tetapi sekarang sudah sangat sulit untuk ditemukan karena semakin tergeser oleh pentas dan hiburan modern.

Tarling adalah seni musik dan lagu yang pada awalnya ditampilkan dalam bentuk nyanyian (kiser) yang diiringi oleh gitar dan suling saja. Penamaan Tarling sendiri merupakan Akronim dari Gitar (Tar) dan Suling (Ling).

Sejalan dengan perkembangan zaman, kesenian Tarling mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat. Saat ini Tarling sudah dilengkapi dengan alat-alat musik yang modern. Kendatipun demikian Tarling klasik masih banyak diminati oleh penduduk.

Salah satu jenis kesenian tradisional masyarakat Indramayu, yaitu pertunjukan berupa akrobat/atraksi dengan media tangga, sepeda beroda satu dan sebagainya. Kesenian Genjring Akrobat dalam penyajiannya diiringi alat musik Genjring/Rebana dengan dilengkapi tari Rudat.

Sandiwara adalah sebuah pertunjukan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa Indramayu. Sandiwara yang dipertunjukan di wilayah-wilayah budaya Indramayu adalah hasil alkulturasi budaya eropa yang dibawa oleh bangsa Portugis pada abad ke 16 yang terlihat dari setingan panggungnya.

Sandiwara di Indramayu mirip dengan seni pertunjukkan masres yang ada di wilayah Cirebon dan hampir serupa dengan seni pertunjukan ketoprak yang ada di daerah Jawa Tengah dan ludruk di Jawa Timur, kemiripan dengan seni pertunjukan masres ini dikarenakan masres dan sandiwara indramayu berasal dari akar budaya Cirebon yang sama namun hanya berbeda dalam penggunaan bahasa, Bahasa Jawa Indramayu atau yang biasa disebut basa dermayon lebih dominan pada pertunjukan sandiwara indramayu, di Indramayu seni drama sebagian besar mengisahkan tentang legenda dan sejarah.

Sebuah sandiwara bisa berdasarkan skenario atau tidak. Apabila tidak, maka semuanya dipentaskan secara spontan dengan banyak improvisasi.

Berokan adalah seni budaya asli asal penduduk pribumi indramayu dengan kata lain adalah barong yang mirip dengan barongsai yang diadakan setiap hari raya Idul Fitri, tepatnya setelah sholat hari raya. Biasanya yang menjadi berokan memakai topeng menyeramkan dan baju berupa kurungan namun ada juga yang berbentuk lucu. Baju berokan biasanya terbuat dari karung goni. Pengiringnya ada dua, yang pertama adalah yang meminta beras kepada warga dan yang kedua adalah sekelompok orang yang memainkan alat musik. Cara memanggilnya yaitu dengan berteriak "galak, gloak" maka sang berokan akan mengejar siapapun yang memanggilnya. Berokan ini akan berkeliling kampung mulai dari hari pertama Idul Fitri sampai 2 atau 3 hari sesudahnya.

Kesenian yang terpengaruh oleh sisingaan dari Subang ini sudah mulai dimodifikasi dengan adanya "Kebo Ngamuk" dan "Burok"

Batik yang berciri khas pesisir, memiliki corak yang berbeda dengan batik daerah lainnya. Perpaduan antara kepercayaan, adat istiadat, seni dan lingkungan kehidupan daerah pesisir, ditambah lagi adanya pengaruh dari luar, seperti Cina, Arab dan Timur Tengah, Hindu-Jawa serta Eropa ikut memengaruhi terbentuknya motif dan karakter batik tulis pesisir.

Industri kerajinan batik tulis ini terdapat di Kelurahan Paoman, Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu dan Terusan, Sindang, Indramayu. Kualitas dari batik yang mem punyai ± 200 motif ini telah mampu menembus pasaran internasional, terutama para kolektor batik dari mancanegara.

Kerajinan bordir berkembang cukup pesat di Indramayu, terletak di Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya ± 6 kilometer dari Kota Jatibarang atau 22 kolimeter dari Kota Indramayu. Motif yang cukup terkenal adalah motif seruni, tapak kebo, bunga tulip, lunglungan, hasil produksinya mampu memenuhi permintaan pasar regional dan Nasional. Indramayu adalah daerah yang sangat menarik untuk dikunjungi, karena letaknya yang sangat strategis yaitu di sepanjang jalan pantai utara Pulau Jawa.

Hasil bumi Indramayu adalah padi, walaupun bukan penghasil padi terbesar, tetapi masyarakat Indramayu umumnya memiliki mata pencarian sebagai petani, dan sebagian besar wilayah Indramayu merupakan lahan pertanian, bahkan bisa ditemukan persawahan walaupun berada di pusat kota Indramayu.

Selain padi, hasil bumi yang paling terkenal adalah mangga, jenis mangga khas Indramayu sendiri disebut mangga gedong gincu oleh masyarakat setempat. Dari hasil bumi yang satu inilah, Indramayu mendapat julukan sebagai Kota Mangga.

Indramayu juga terkenal kaya akan sumberdaya migas, salah satu kilang minyak besar yang ada di Indramayu adalah Kilang Minyak Balongan yang berada di Kecamatan Balongan.

Memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) merupakan syarat utama untuk bisa ikut tender/lelang pemerintah!

Di tahun 2022, terjadi perubahan skema sertifikasi badan usaha di LPJK. Bersamaan dengan itu, keluar format baru SBU Jasa Konstruksi

Contoh Format SBU Jasa Konstruksi Baru 2022

Dengan dukungan team yang berpengalaman dalam pengurusan Sertifikat Badan Usaha (SBU), kami siap membantu Perusahaan Anda, sehingga Anda dapat mengikut tender pemerintah/swasta sesuai dengan jadwal lelang/tender yang ada.

Dapatkan Layanan Prioritas dengan menghubungi tim kami

Jika Anda ingin menyampaikan pertanyaan tentang perizinan dan pembuatan PT, saran atau komplain, jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami akan sangat senang melayani permintaan Anda sesegera mungkin.

Bagaimana cara kami membantu Perusahaan Anda untuk memiliki SBU Jasa Konstruksi?

  • 01. Business Goal

    Ceritakan kepada kami, goal bisnis Anda.

    • Mau ambil kualifikasi kontraktor atau konsultan
    • Kapan akan mengikuti tender
    • Tender apa yang akan diikuti
  • 02. Review kebutuhan teknis

    • Data penjualan tahunan;
    • Data kemampuan keuangan/nilai aset;
    • Data ketersediaan Tenaga Kerja Konstruksi
    • Data kemampuan dalam menyediakan Peralatan konstruksi;
    • Data penerapan sistem manajemen anti penyuapan ISO 37001;
    • Data keanggotaan asosiasi BUJK yang terdaftar di LPJK.
  • 03. Tenaga Ahli & Peralatan

    Apakah sudah memiliki tenaga ahli dan peralatan pendukung konstruksi

    Kami dapat membantu proses SKK - Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi dan pemenuhan Peralatan

    Termasuk Ijin Operator (SIO) dan Ijin Alatnya (SIA)

  • 04. Proses SBU

    SBU Jasa Konstruksi ini dikeluarkan oleh LSBU atau Lembaga Sertifikat Badan Usaha yang di Akreditasi oleh LPJK PUPR

    • BUJK Nasional
    • BUJK PMA
    • BUJK Asing

    Selama Proses SBU, Anda dapat melakukan pengecekan realtime di website Duniatender.com Cek Proses SBU

  • 05. Perusahaan Anda siap ikut tender

    Selamat! Perusahaan Anda sudah bisa berbisnis dengan tenang

    Cek Tender Sekarang!
Image Description

Pengumuman Lelang Tender Penataan Halaman dan Pagar Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Indramayu (Lanjutan)

Sumber