Ground Support Tambang Bawah Tanah

Ground Support atau Penyangga Batuan di tambang bawah tanah adalah sistem struktur yang dipasang untuk mencegah runtuhnya atap (back), dinding (rib), dan muka kerja (face) terowongan akibat tekanan batuan di sekitar bukaan tambang. Sistem ground support mencakup berbagai metode: rock bolt (baut batuan yang ditanam ke dalam batuan untuk memberikan tekanan konfin), wiremesh (jaring kawat yang menangkap fragmen batuan kecil), shotcrete (beton yang disemprotkan untuk menstabilkan permukaan batuan), dan timber/steel set (rangka kayu atau baja untuk kondisi batuan sangat lemah). Desain ground support dilakukan oleh geoteknik engineer berdasarkan klasifikasi massa batuan (rock mass classification) menggunakan sistem RMR, Q-system, atau GSI.

Kecelakaan fall of ground (runtuhan batuan) adalah penyebab fatality utama di tambang bawah tanah secara global, termasuk di Indonesia. Kewajiban pemeriksaan kondisi ground support sebelum setiap shift dan sebelum personel memasuki area kerja—menggunakan scaling bar untuk menguji kestabilan batuan dan menjatuhkan batuan yang sudah terlepas secara aman sebelum personel bekerja di bawahnya—adalah prosedur K3 fundamental yang tidak boleh dilewati. Dalam konteks CSMS, kontraktor pertambangan bawah tanah harus menunjukkan kompetensi ground control yang memadai—termasuk kemampuan personelnya dalam mengenali tanda-tanda deteriorasi ground support dan melaporkan segera—sebagai persyaratan kualifikasi untuk bekerja di tambang bawah tanah.